RSS

AKHIR PEMIKIRAN IBU KARTINI (SISI LAIN YANG TIDAK TERPUBLIKASIKAN)

30 Apr

Kartini dianggap sebagai pelopor perjuangan emansipasi di Indonesia. dan

akhir-akhir ini namanya dihubung-hubungkan dengan kata feminisme.

Apa yang terlanjur lekat dengan sosok Kartini sebenarnya hanyalah

sebagian proses hidupnya yang gelisah. Akhir proses kartini tak banyak

terungkap. Pemikiran pada awal prosesnya-lah yang terlanjur lantang

disuarakan sehingga lekat pada namanya. Padahal, menjelang akhir

hayatnya, Pemikiran kartini telah banyak berubah.

KARTINI DULU

Ngga bisa disalahkan kalo ada orang yang beranggapan Kartini

memperjuangkan emansipasi, mendobrak adat, dan berkiblat ke Barat, serta

mengkritisi Islam. Pada awalnya, Kartini emang demikian. Inilah contoh

surat-suratnya:

“…Orang kebanyakan meniru kebiasaan orang baik-baik, orang baik-baik

itu meniru perbuatan orang yang lebih tinggi pula, dialah orang Eropa”

[surat kepada Stella, 25 Mei 1899]

“Aku mau meneruskan pendidikan ke Holland, karena Holland akan

menyiapkan aku lebih baik untuk tugas besar yang telah aku pilih.”

[surat kepada Ny Ovinksoer, 1900]

Tidak heran kalo Kartini punya pemikiran demikian. Gimana lagi? Temen

surat-menyurat Kartini kebanyakan adalah orang barat yang hendak

membaratkan kaum ningrat di Indonesia, dimana tujuan akhirnya adalah

agar mereka tidak melakukan perlawanan terhadap pemerintah Hindia

Belanda pada jaman tersebut. Mari kita simak teman-teman korespodensi

Kartini. siapa sajakah mereka..?.

1. J.H. Abendon

Abendon ditugaskan oleh Belanda sebagai Direktur Deptemen Pendidikan,

Agama, dan Kerajinan. Abendon banyak meminta nasihat dari Snouck

Hurgronye (seorang orientalis yang pura-pura masuk islam untuk mencari

cara mematikan semangat jihad umat islam di Indonesia). Menurut

Hurgronye, golongan yang paling keras menentang penjajah Belanda adalah

golongan Islam. Memasukkan peradaban Barat dalam masyarakat pribumi

adalah cara yang paling jitu untuk mengatasi pengaruh Islam. Tidak

mungkin membaratkan rakyat, kecuali jika ningratnya telah dibaratkan.

Untuk tujuan itu, langkah pertama yang harus diambil adalah mendekati

kalangan ningrat terutama yang menganut agama Islam untuk kemudian

dibaratkan. Dan Hurgronye menyarankan Abendanon untuk mendekati Kartini.

2. Stella (Estelle Zeehandelaar)

Seorang wanita Yahudi, anggota militan pergerakan feminis di negeri

Belanda saat itu.

3. Nellie Van Kol (Ny. Van Kol)

Ia adalah seorang penulis yang mempunyai pendirian humanis dan

progresif. Dialah orang yg paling berperan dalam mendangkalkan aqidah

Kartini. Pada awalnya, ia bermaksud untuk memurtadkan Kartini dengan

kedatangannya seolah-olah sebagai penolong yang mengangkat Kartini dari

ketidakpeduliannya terhadap agama.

BERTEMU KYAI SHOLEH DARAT

Selain faktor teman buruk, kaum muslim di sekeliling Kartini juga punya

pemahaman yang salah terhadap Islam. Mereka mengajarkan Islam tanpa

memahamkan apa yang diajarkan. coba kita simak surat kartini kepada

stella berikut ini.

“Bagaimana aku dapat mencintai agamaku kalau aku tidak mengerti dan

tidak boleh memahaminya. Al Qur’an terlalu suci, tidak boleh

diterjemahkan ke dalam bahasa apapun. Disini tidak ada yang mengerti

bahasa Arab. Orang-orang disini belajar membaca Al Qur’an tapi tidak

mengerti apa yang dibacanya. Kupikir, pekerjaan orang gilakah, orang

diajar membaca tapi tidak mengerti apa yg dibacanya.” [surat kepada

Stella, 6 Nov 1899]

Perlu diketahui pada waktu pemerintahan Hindia Belanda umat muslim

memang dibolehkan mengajarkan Al Qur’an dengan syarat nggak diterjemahin

alias cuma belajar baca huruf arab (pengaruh ini masih dapat kita jumpai

saat ini, dimana belajar Al-quran dianggap selesai ketika telah mampu

membaca Al-quran dengan lancar sampai akhir walaupun tidak paham

makna-nya -khataman-). Dan ini memang taktik belanda agar orang-orang

Indonesia tidak paham terhadap Al-quran dan akhirnya mereka tidak akan

angkat senjata kepada penjajah kafir belanda.

Suatu ketika Kartini berkunjung ke rumah pamannya, seorang Bupati Demak.

Saat itu sedang berlangsung pengajian bulanan khusus untuk anggota

keluarga. Kartini ikut mendengarkan pengajian bersama wanita lain dari

balik tabir. Kartini tertarik kepada materi yg sedang diberikan, tafsir

Al Fatihah, oleh Kyai Saleh Darat. Setelah selesai pengajian, Kartini

mendesak pamannya agar bersedia untuk menemaninya menemui Kyai Sholeh

Darat.

Kartini menceritakan bahwa selama hidupnya baru kali itulah dia sempat

mengerti makna dan arti surat Al Fatihah, yang isinya begitu indah

menggetarkan hati. Kemudian atas permintaan Kartini, Kyai Sholeh diminta

menerjemahkan Al Qur’an dalam bahasa Jawa di dalam sebuah buku berjudul

Faidhur Rahman Fit Tafsiril Quran jilid pertama yang terdiri dari 13

juz, mulai surat Al Fatihah hingga surat Ibrahim. Buku itu dihadiahkan

kepada Kartini saat dia (Kartini) menikah dengan R. M. Joyodiningrat,

Bupati Rembang.

Kyai Sholeh meninggal saat baru menerjemahkan jilid pertama tersebut.

Namun, Kartini hal ini sudah cukup membuka pikiran Kartini dalam

mengenal Islam.

Tahu nggak? Sebenarnya ungkapan Habis Gelap Terbitlah Terang itu

sebenarnya Kartini temukan dalam surat Al Baqarah ayat 257, yaitu firman

Allah”…minazh-zhulumaati ilan-nuur” yang artinya “dari

kegelapan-kegelapan (kekufuran) menuju cahaya (Islam)”. Oleh Kartini

diungkapkan dalam bahasa Belanda “Door Duisternis Tot Licht”. dan

kemudian oleh Armien pane yang menerjemahkan kumpulan surat-surat

Kartini diungkapkan menjadi “Habis Gelap Terbitlah Terang”

KARTINI KEMUDIAN

Kartini yang mulai mengenal islam pun berubah. Pandangannya terhadap

Islam menjadi positif.

“Moga-moga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat umat agama lain

memandang agama Islam patut disukai” [surat kepada Ny. Van Kol, 21 Juli

1902].

Kartini kemudian merumuskan arti pentingnya pendidikan untuk wanita,

bukan untuk menyaingi kaum laki-laki seperti yang diyakini oleh pejuang

feminisme dan emansipasi saat ini (sebenarnya lebih cocok disebut

sebagai westernisasi), namun agar para wanita lebih cakap menjalankan

kewajibannya sebagai Ibu. Kartini menulis dalam suratnya:

“Kami disini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak

perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak

perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi

karena kami yakin pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar

wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan

alam sendiri ke dalam tangannya: menjadi Ibu, pendidik manusia yang

pertama-tama.” [kepada Prof. Anton dan Nyonya, 4 Okt 1902]

Dan tidak hanya itu, pandangannya terhadap Barat pun berubah. Kartini

menulis;

“Dan saya menjawab, Tidak ada Tuhan kecuali Allah. Kami mengatakan bahwa

kami beriman kepada Allah dan kami tetap beriman kepada-Nya. Kami

ingin mengabdi kepada Allah dan bukan kepada manusia. Jika sebaliknya

tentulah kami sudah memuja orang dan bukan Allah” [kpd Ny. Abendanon, 12

Okt 1902]

“Sudah lewat masanya, tadinya kami mengira bahwa masyarakat Eropa itu

benar-benar satu-satunya yang paling baik, tiada taranya. Maafkan kami,

tetapi apakah Ibu sendiri menganggap masyarakat Eropa itu sempurna?

Dapatkah Ibu menyangkal bahwa di balik hal yang indah dalam masyarakat

Ibu, terdapat banyak hal-hal yang sama sekali tidak patut disebut

sebagai peradaban?” [surat kepada Ny. Abendanon, 27 Okt 1902]

Kartini meninggal dalam usia muda 25 thn, empat hari setelah melahirkan

putranya. Ia tak sempat belajar Islam lebih dalam. namun yang patut

disayangkan kebanyakan orang mengetahui Ibu Kartini hanyalah sekedar

pejuang emansipasi wanita. Banyak orang yang nggak tahu

perjalanan Kartini menemukan Islam dan perubahan pola pikirnya.

Smoga tulisan ini dapat menggugah kita untuk tahu lebih dalam tentang

IBU KITA KARTINI, daripada sekedar peringatan tahunan tampa makna.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 30 April 2011 in Uncategorized

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: